Sambang Candi

Bukan cuma satu dua orang dan bukan cuma sekali dua kali aja ada dosen yang bilang kalau jadi arsitek itu harus rajin jalan-jalan, harus rajin mengamati. Duh, siapa sih yang nggak suka jalan-jalan. Tapi mbok ya anjuran untuk jalan-jalan itu diimbangi juga dengan pengurangan jumlah dan intensitas tugas kuliah juga gitu lho. #modus Emang enak gitu, misalnya, waktu weekend asyik pelesiran tapi sepanjang jalan terus-terusan dihantui dengan pikiran ‘waktu yang aku gunakan untuk bersenang-senang ini harusnya bisa aku gunakan untuk mengerjakan tugasku’?

Anyway, yang mau gue bicarakan di sini sebenarnya adalah hasrat pelesir gue yang semakin memuncak akhir-akhir ini. Pemicunya terutama adalah mata kuliah Arsitektur Indonesia. Meskipun gue males-malesan ikut kuliahnya, secara cuma 2 sks dan masuknya pagi amir jam 7 pagi, tugasnya bikin gue bikin gue merasa menemukan ketertarikan baru gitu. Tugasnya yang teranyar adalah mengamati perkembangan candi-candi di Indonesia, ditinjau dari segi transformasi dan variasi massa, perabot, dan ragam hias candi terhadap periodisasinya. Nggak ngerti? Sama gue juga kok. Intinya sih, setelah nyari literatur dan gambar-gambar tentang candi di internet, gue entah kenapa jadi menemukan pemahaman baru bahwa candi itu… eksotis! Yaah… dari dulu sih yang namanya candi itu emang eksotis, tapi gue nggak gitu aware sama hal tersebut sampai akhirnya mata kuliah ini mengharuskan gue mencari sebanyak-banyaknya referensi tentang candi.

Ah, sumpah, gue pengin menjelajahi candi! Bikin semacam acara pelesir gitu ke situs-situs candi, judulnya Sambang Candi. Sounds cool, eh? Nggak harus ke Kamboja atau Thailand juga sih. Yang deket-deket dululah, wong di Jawa Timur aja candinya juga ada buanyak kok. Tetapi oh tetapi, bagaimanakah bila ternyata harapan tak sejalan dengan kesempatan. Aktivitas gue yang sekarang ditambah dengan bekerja sebagai pengajar di LBB bikin waktu gue semuanya habis di kampus, tempat kerja, jalan, dan kasur. Hasil main mata gue sama kalender pun menunjukkan bahwa tanggal merah yang berpotensi dimanfaatkan untuk liburan masih jauh dari pandang. Walhasil, satu-satunya cara gue bisa pelesir dalam waktu dekat ini adalah dengan jadi “anak nakal”. Hehehe…

Sambil menimbang-nimbang apakah keputusan untuk nakal tadi jadi dilaksanakan atau nggak, sementara jalan-jalannya lewat internet dulu lah ya. Monggo disimak ini gambar candi-candi di Jawa Timur dulu, siapa tahu jadi tertarik juga dan mau ikut nemenin saya Sambang Candi bareng.🙂

2 responses to “Sambang Candi

  1. Aku juga suka banget jalan-jalan nyambangi candi.
    Di Malang ada banyak candi, tapi baru sempet ke candi Singosari & candi Badut.
    Trus di Pare, Kediri udah sempet nyambangi Candi Surowono.
    Rasanya bikin ketagihan gitu, walopun di candi itu sepi, gak banyak yang berkunjung & bisa mati gaya di sana, cz gak tahu mau ngapain klo udah nyampe candi. Paling foto-foto bentar, trus langsung cabut pulang🙂
    Yang jadi penasaranku, cara buat candi itu gimana ya? Kok orang2 jaman dulu pinter banget mereka buat candi, padahal jaman dulu belum ada semen🙂

    • wah, asyik banget mbk sdh jalan2 kemana-mana gitu. sy terakhir kali maen2 ke bbrp situs candi di trowulan waktu SD sm bapak, dan karena waktu itu masih kecil jadi ya masih belum begitu ngeh istimewanya candi apa. skrg, bertahun-tahun kemudian ketika sy mempelajari candi malah jadi tertarik bgt pengin menjelajahi candi. hehe..

      wah, sy juga nggk tahu mbak. mungkin memang ada bahan perekatnya yang diaplikasikan cukup tipis sudah cukup kuat, jd nggak keliatan gitu. ada memang cuma ditumpuk-tumpuk dan memamkai sistem kuncian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s