Catatan Kuliah: Arsitektur Indonesia – Pengantar

Untuk mengurangi rasa bersalah gue karena sudah lama nggak posting, juga karena sebenernya gue punya banyak ide tulisan tapi nggak punya waktu buat eksekusinya, kali ini gue post aja hasil tugas kuliah gue. Lumayan kan daripada nggak ada sama sekali. Lumayan daripada lu manyun. Aapa? Mau protes? Silahkan. Tidak dilayani.

Arsitektur Rakyat Nusantara, arsitektur indonesia, arsitektur tradisional, arsitektur naungan, arsitektur masa silam, arsitektur, arsitektur alam, rumah tradisional, batuan, batu, atap ijuk, atap ilalang

sumber gambar: http://goo.gl/eIIBw

Arsitektur Indonesia

Akhmad Imron Fauzi

3210100086

Dosen Pengampu MK:

Ir. Murtijas Sulistijowati, MT.

Arsitektur adalah salah satu media komunikasi antara manusia dengan lingkungan. Berbicara tentang arsitektur tidak akan lepas dari bahasan tentang bagaimana manusia bereaksi terhadap lingkungannya. Keterkaitan terhadap lingkungan menjadi sangat lekat dengan arsitektur karena pada dasarnya tidak ada satupun arsitektur yang tidak menempati suatu petak di muka bumi. Petak bumi kemudian menjadi perangkat untuk membuat dan menghadirkan arsitektur sekaligus memeriksa hasilnya.

Meskipun demikian, ada pula arsitektur yang seolah mengesampingkan keberadaan faktor “petak bumi” tadi dalam pewujudannya. Yang demikian inilah yang disebut dengan internasionalisme/ universalisme. Paham tersebut tidak mengindahkan lokalitas atau keterkaitan arsitektur terhadap tempat beradanya, melainkan memandang arsitektur sebagai produk jadi yang bisa dipindah-pindah dan ditempatkan di belahan bumi manapun tanpa harus repot-repot menyesuaikan diri dengan kearifan setempat.

Gaya internasionalisme yang diprakarsai oleh bangsa Barat ini kemudian menyebar dan “mewabah” ke berbagai penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Banya pihak yang kemudian berlomba-lomba menunjukkan ke-internasional-annya, lantas lupa bahwa bangsa ini memiliki kekayaan arsitektural tersendiri yang bukan hanya mengagumkan, tapi juga jauh lebih kontesktual terhadap kondisi negara ini. Ialah yang dikenal dengan sebutan “Arsitektur Nusantara”.

Arsitektur Naungan, Arsitektur yang Berselimutkan Alam

Sejak era modern, arsitektur Barat menunjukkan pengaruh yang begitu kuat terhadap perkembangan arsitektur di belahan dunia yang lain. Bahkan, sampai saat ini, sepertinya arsitektur yang ke-Barat-baratan masih menjadi kiblat dalam pendidikan arsitektur di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Padahal, belum tentu arsitektur negara Barat tersebut sesuai atau cocok ditempatkan di negara ini.

Secara geografis, sebenarnya Indonesia memiliki bentang yang kurang lebih sama dengan Amerika ataupun benua Eropa. Namun, tidak berarti kondisinya serta-merta sama. Tidak seperti Amerika atau Eropa yang merupakan negara daratan, Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang wilayahnya didominasi oleh lautan. Lautan inilah yang menjadi pemisah sekaligus penyatu pulau satu dengan yang lain yang lain, termasuk secara arsitektural. Dikatakan penyatu karena wilayah lautan inilah yang melingkupi pulau-pulau tersebut dan mempersatukannya dalam satu wilayah yang dari sanalah dapat muncul istilah Arsitektur Nusantara. Dikatakan pemisah karena lautan pulalah yang menciptakan batas antarpulau sehingga kemudian muncul karakteristik arsitektur yang cenderung berbeda antara pulau atau daerah satu dengan yang lainnya.

Kondisi kepulauan ini –selain kondisi iklim- juga yang akhirnya memunculkan karakter arsitektur Indonesia yang berbeda dari model arsitektur Barat. Keberadaan pulau-pulau yang banyak tapi kecil-kecil ini, karena keterbatasan wilayahnya, cenderung membentuk bangunan arsitektur Indonesia yang berkarakter meninggi, bukannya melebar atau meluas. Bahkan, nenek moyang kita dahulu sudah mampu menunjukkan kemampuan berarsitektur yang menakjubkan dengan mendirikan bangunan sampai enam tingkat dengan hanya menggunakan material alam lokal dan teknik konstruksi ikat.

Selain keadaan alam, kondisi iklim tak urung turut memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap karakteristik arsitektur Nusantara. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dan curah hujan yang tinggi. Hal ini menyebabkan manusia Indonesia menjadi tidak berjarak dari alam, tidak seperti orang-orang Barat yang membutuhkan “benteng perlindungan” dari alam ketika musim dingin tiba. Saking tidak berjaraknya, kita bahkan bisa mendapati gambaran nenek moyang kita yang pada zaman dahulu bertelanjang dada saat beraktivitas sehari-hari, baik lelaki maupun perempuan –tentu saja sebelum hal tersebut dianggap tidak sopan.

Keintiman dengan alamlah yang memberikan kekhasan pada arsitektur Nusantara. Bila arsitektur Barat mengisolasi diri dari alam dengan menciptakan sebuah perlindungan, arsitektur Nusantara, sebaliknya, adalah arsitektur yang berselimutkan alam. Iklim tropis Indonesia yang hanya mengenal dua musim, hujan dan panas, mempengaruhi karakter arsitekturnya dalam wujud arsitektur naungan. Arsitektur naungan dirasa paling pas dengan kondisi iklim tropis yang panas dan lembab sebab udara dapat mengalir dengan leluasa melalui ruang yang ternaungi. Saat musim hujan, untuk menghindari banjir atau becek, ditambahkanlah sebuah geladak atau lantai yang ditinggikan pada bangunan arsitektur Nusantara pada masa lampau.

Hal lain yan membedakan arsitektur Barat dengan arsitektur Nusantara adalah pemaknaan ruangnya. Ketika dalam doktrin Barat ruang terbentuk dari batasan-batasan berupa dinding, lantai, dan atap, ruang dalma arsitektur Nusantara justru tercipta dari daerah bayang-bayang akibat pergerakan matahari. Hal tersebut tak pelak mengakibatkan perbedaan orientasi pada keduanya. Dalam arsitektur Barat, orientasinya adalah fungsi ruangan, artinya aktivitas tertentu dilaksanakan di ruangan tertentu yang memang difungsikan untuk itu. Beda lagi dengan arsitektur Nusantara yang memberi tekanan pada aktivitas pengguna, sementara fungsi ruangnya mengikuti.

Meskipun secara umum berwujud naungan, arsitektur Nusantara bukannya tidak mengenal istilah ruangan atau dinding sama sekali. Dinding pada arsitektur Nusantara adalah dinding berpori atau dinding yang bernafas. Sementara, sebuah ruangan atau bilik pada asitektur Nusantara.digunakan secara terbatas hanya untuk fungsi peyimpanan, yakni menyimpan benda pusaka dan “menyimpan” kaum perempuan –yang dianggap sama berharganya. Karena hanya digunakan untuk tidur, bukan bekerja, maka wajar bila bilik tersebut tidak dirancang memiliki penerangan yang memadai. Angin-angin pun tidak diperlukan karena pada malam hari –ketika ruangan tersebut digunakan- hawanya sudah dingin. Maka, dibuatlah perapian yang secara cerdik tidak hanya digunakan untuk menghangatkan manusia, tapi juga dipakai sebagai salah satu cara mengawetkan bahan bangunan.(*)

Arsitektur Indonesia 

Akhmad Imron Fauzi

3210100086

Dosen Pengampu MK:

Ir. Murtijas Sulistijowati, MT.

 

Kesenian Tradisional Indonesia: Kuda Lumping

 

Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.

Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Tarian ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Dalam pementasanya, tari kuda lumping menggunakan kaca,beling,batu,dan jimat.

Selain mengandung unsur hiburan, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur suprantural. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.

Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.

Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.

Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe. Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kuda_lumping

 

Kuda Lumping yang Makan Beling

 

Perkara klenik, mistik, gaib, dan segala macam hal yang bernuansa supranatural memang sepertinya selalu menarik perhatian lebih bagi masyarakat bangsa ini. Meskipun keberadaannya sudah berangsur-angsur tergeser oleh berbagai budaya modern, menyaksikan pertunjukan seni yang bernuansa magis selalu mendatangkan keasyikan –dan kengerian- tersendiri.

Tari Kuda Lumping atau yang dikenal juga dengan berbagai istilah lain seperti Jaran Kepang atau Jathilan merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional bangsa ini yang turut “menyisipkan” unsur magis dalam pertunjukannya. Adalah adegan kesurupan yang boleh jadi bagian yang paling dinikmati dan dinanti dalam tarian ini. Demikian lekatnya Kuda Lumping dengan adegan kesurupan, sampai-sampai ia menjadi inspirasi sebuah lagu dangdut yang sampai sekarang (rasanya) masih cukup punya nama. Sepertinya memang sedemikian mengasyikkan menonton sekumpulan orang seperti kehilangan kesadaran sambil melakukan aksi-aksi yang bikin orang bergidik menyaksikannya seperti didera cambuk seolah merekalah kuda sungguhannya, mengupas kulit kelapa memakai gigi, atau yang paling terkenal, makan beling.

Sayangnya, pengalaman saya dengan Kuda Lumping pun sebatas pengetahuan bahwa Kuda Lumping itu makan beling, tidak lebih. Sejujurnya, saya bahkan belum pernah sekalipun menyaksikan pertunjukan ini. Alih-alih melihat langsung, menyaksikan di televisi atau di YouTube pun tidak. Mungkin juga saya pernah sekali waktu melihat pertunjukan Kuda Lumping dan cuma tidak ingat saja. Yang jelas, saya tidak menyimpan memori tentang bagaimana aksi seorang penari Kuda Lumping saat menyantap kudapan pecah belahnya atau bagaimana gerak-gerik mereka sebelum mulai memasuki fase kesurupan. Sekali lagi, saya cuma tahu kalau Kuda Lumping itu makan beling!

Dan, yah, bila semua orang juga memiliki pengetahuan hanya sebatas ini mengenai Kuda Lumping, mungkin dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan generasi mendatang hanya sekedar mampu berbangga bahwa orang bangsanya adalah orang yang kuat, yang bahkan bisa mengunyah beling seperti melahap kacang, dulu…(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s