Jadi Mahasiswa Arsitektur (Tidak) Harus Jago Gambar

 

Artikel ini telah saya tulis ulang agar lebih mudah dipahami dan dibaca. Untuk membaca versi terbaru dari artikel ini, silahkan buka di Arsitek-tung! >> Jadi Arsitek (Tidak) Harus Jago Gambar?

 

Kurang lebih setahun lalu, salah seorang adek kelas gue yang waktu itu masih berstatus calon maba ngirim sms ke gue. Intinya, dia khawatir bakal kesulitan kuliah di jurusan Arsitektur karena dia nggak jago gambar. Wuih, sebagai seorang kakak kelas yang (ingin mencitrakan diri sebagai sosok yang) baik hati, gue kasihlah dia kata-kata mutiara nan bijak, disertai dengan biodata pribadi yang mencakup zodiak, makanan-minuman favorit, artis idola, dan tidak lupa tanda tangan yang disertai kesan & pesan. Dalam bahasa yang didramatisasi secara hiperbolik, gue berkata kepada dia, “Wahai adikku. Janganlah engkau merasa resah ataupun bimbang dalam menjalani kehidupanmu sebagai mahasiswa arsitektur nantinya. Engkau bukanlah satu-satunya yang tidak memiliki kemampuan tingkat Dewa 19 dalam menggambar. Saya pun demikian. Namun, adikku, percayalah, sesungguhnya kita semua nantinya akan diajarkan dan dilatih cara menggambar yang baik dan benar. Maka, tetapkanlah hatimu dan terseyumlah.” *awan terbelah menampakkan cahaya surga**mengepakkan sayap dengan lembut* *turun perlahan-lahan dari langit**kayang*

Setelah itu, gue sedemikian terobsesi untuk mencitrakan diri sehingga memutuskan untuk nulis satu postingan khusus yang judulnya sama kayak judul postingan ini. Tujuannya, tentu saja membangkitkan semangat adek kelas gue tadi berikut jutaan anak SMA lain se-Indonesia Raya yang pengin masuk jurusan Arsitektur tapi keder duluan karena merasa nggak jago gambar. Dengan demikian, mereka akan merasa termotivasi dan menganggap gue setara dengan Mario Teguh-nya mahasiswa arsitektur. Padahal sih, harapan yang gue kasih itu hanyalah ilusi semata. Hehehehe…

Singkat cerita, postingan gue nggak berakhir dengan sukses. Entah gue diem-diem ada hasrat tersembunyi pengin jadi penulis novel atau pengisi kolom cerbung mingguan di koran-koran, gue bikin postingan itu berseri. Dan bukannya bercerita kenapa kok mahasiswa arsitektur boleh nggak jago gambar, jatohnya gue malah kayak nulis diary yang isinya curhatan gue selama kuliah dua semester sebelumnya. Zonk banget dah. Bertele-tele dan (sepertinya) nggak ada ujungnya. Bahkan sampe ada yang kasih komen marah-marah gitu biar gue to the point aja.

Pada akhirnya, setelah dua postingan yang zonk, gue putusin buat nggak nerusin lagi. Gue hapus postingannya dari blog ini, tapi kalau lu masih penasaran pengin baca, masih ada kok di blog gue yang satunya. Link-nya ada di sini dan di sono.

Sebenernya, postingan gue yang baru ini tetap bertele-tele. Ya kan? Ya sudah, langsung aja. Intinya daripada gue susah-susah bikin postingan kayak gitu dan jadi ribet sendiri, nih gue bikinin rangkuman aja dari thread yang ada di Kaskus, karena ternyata ada juga yang ngajuin topik yang kurang lebih sama. Lumayan juga jadi gue nggak perlu terlalu repot mikir.

TKP-nya bisa lu simak di sini: http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=10256522

TS yang bikin thread ini mulai perbincangan dengan nge-post pertanyaan begini: “Agan agan sekalian ane mau tanya kalo mau jadi arsitek itu harus bisa gambar ga? Soalnya kemampuan menggambar ane kurang tapi ane pengen jadi arsitek jadi gimana gan? Bisa jadi arsitek atau tidak?”

Beginilah hasilnya kalau lu jago gambar

Yang ngasih respon ternyata jawabannya macem-macem. Meskipun ada juga beberapa yang bilang kalau jadi arsitek ya harus bisa menggambar, rata-rata sih bilang kalau mau jadi arsitek nggak musti jago banget ngegambarnya, yang penting ada kemauan dan semangat untuk belajar karena kalau kuliah pasti diajarin gambar. Sebagian lagi nambahin yang lebih penting adalah daya bayang ruang dan imajinasi yang bagus. Untuk golongan ini, jawaban yang menurut gue paling komplit adalah yang satu ini:

harus bisa gambar? tidak. karena nanti akan diajarkan menggambar.

tapi pada intinya adalah bagaimana apa yang anda bayangkan bisa anda gambarkan. dan orang mengerti apa yang anda gambarkan.

sekarang banyak mahasiswa arsitektur yang tidak mengandalkan lagi sketsa tangan, tapi mengandalkan skill komputer. saya pribadi lebih menyukai gambar tangan karena feel dari gambar tersebut nampak. walaupun demikian, anda tetap bisa menjadi arsitek selama anda punya kemauan keras untuk mengalahkan kekurangan anda, dan meningkatkan kelebihan anda.

banyak dari mahasiswa yang tadinya kelihatan tidak bisa apa-apa ternyata bisa lebih berhasil karena lebih pintar dalam berhubungan dengan klien dan mendapatkan pekerjaan. sedangkan yang pintar-pintar gambar malah jadi anak buahnya


Dirunut ke belakang, ada satu komen yang agak melenceng dari kebanyakan pendapat yang lain tapi menurut gue mutu dan ada benernya juga. Komennya kayak gini:

rasanya komen2 agan di trit ini bikin saya bingung.

umumnya menjawab sambil jalan dan gak perlu gambar bagus.

lalu ada pembanding dengan frank gehry. aneh. ada lagi yg bilang hitung2an harus kuat. ( apalagi ini ???? )

mungkin bisa saya bantu jelaskan sedikit.

judul tritnya adalah apakah seorang ARSITEK harus pintar gambar. ?

maknanya sudah jelas arsitek bukan anak arsitek. lalu apanya yg sambil jalan ?

judul tritnya adalah apakah seorang ARSITEK harus pintar gambar. ?

saya jawab YA. tau kenapa ? karena disitulah “dagangannya”. gimana arsitek bisa mempresentasikan gambarnya jikalau gambarnya gak jelas / jelek ???

meskipun sekarang banyak teknologi komputerisasi yg mendukung kreatifitas dan aktivitas arsitektural NAMUN itu semua hanya berlaku pada saat KONSTRUKSI. saya mengenal seorang arsitek hebat yg membuat Grand Manhattan Hotel, Kuningan. tau apa yg dia bawa pada saat presentasi ke kliennya ? hanya 4 lembar kertas A4 dan sebuah pinsil. apakah ada CAD atau 3D max ? tidak ada.

seoarang arsitek akan di hired pada saat PRELIMINARY pertama. presenstasi selanjutnya (mungkin) memakai 3D creator. lalu masuk dengan CAD pada Design development.

perihal Frank Gehry (FG) yg sketsanya jelek, saya tidak melihat FG sketsanya jelek. jika terbiasa, mungkin itulah PRELIMINARY ala FG. dia tidak mekakukan mass sketch terhadap suatu bentuk. hanya yg penting2 saja. itu yg saya baca dari tarikan garisnya. dan bagi saya itu cukup untuk dipahami. karena saya tau, preliminary sketch FG itu untuk orang tertentu saja. bukan untuk klien.

udah tau FG bironya pernah kolaps ??

untuk yang bilang kuat dihitungan, saya rasa hitungan itu cuma 20% dari seluruh debit SKS dalam arsitektur. kecuali agan masuk dalam jurusan sipil yang MEKTEK nya sampe 7.

yg utama saya pelajari dari seluruh perkuliahan di arsitektur adalah KONSEP.

selebihnya adalah ide kreatif dari buku dan sumber lainnya. (dosen, internet Dll).

kalo udah ketemu konsep sebanyak apapun pertanyaan pasti BISA PATAH dengan adanya konsep yg kuat. karena segala sesuatunya berawal dari konsep gan.

suka bioklimatik pelajari Ken Yeang.

Suka hightech pelajari Sir Norman Foster.

suka dekonstruksi pelajari Daniel Libeskind, Morphosis. Mark Wigley atau Coop Himmelb(l)au.

suka yg simpel coba Tadao Ando

suka yang gila diluar logika coba Lebbeus Woods.

suka dengan konsep perkotaan pelajari Kevin Lynch.

dan masih banyak lagi.

arsitektur itu unik. bisa merambah kemana saja.

terserah mau arahnya kemana. selamat ber-arsitek.


Gara-gara komen ini, halaman terakhir thread-nya udah nyaris kayak sinetron aja, penuh intrik dan konfik. Kalau boleh gue ambil kesimpulan dengan sedikit nambahin pendapat gue sendiri sih, komen terakhir yang gue pajang tadi banyak benernya. Kalau udah jadi arsitek, kemampuan menggambar itu penting. Penting banget. Kalau ketemu klien, pastinya bikin sketsa tangan emang jauh lebih cepet dan praktis daripada bikin gambar pake komputer. Dan kemampuan menggambar tangan yang ciamik pastinya meningkatkan bukan hanya rasa percaya diri kita di hadapan klien, tapi juga respek klien ke kita. Klien pasti ngerasa kalau kompetensi kita cukup mumpuni kalau bisa bikin gambar sketsa yang mengesankan saat ketemu sama dia.

Soal daya bayang ruang dan imajinasi yang bagus, itu sih nggak usah dibahas lagi ya, udah pasti benernya. Yang jelas, kemampuan menggambar yang pas-pasan nggak bisa jadi alasan buat lu minder masuk jurusan arsitektur. Yang lebih penting adalah gimana lu bisa manfaatin waktu lu selama kuliah itu buat ngasah kemampuan lu biar terus meningkat, sukur-sukur kalau bisa sampai ciamik soro notok jedok. Jadi, setelah lu lulus dan jadi arsitek beneran, lu bisa dengan mudah menuangkan ide-ide dan imajinasi seger lu dalam gambar yang komunikatif dan impresif waktu ketemu sama klien. Hmmm… pe er buat gue juga nih kayaknya.

Eh, tapi judul thread di Kaskus itu kan jelas-jelas nyebut arsitek. Nah,di judul postingan ini kan mahasiswa arsitektur yang dibahas. Berarti dari tadi nggak nyambung dong?! GImana sih.

Terus? Salah gue? Salah temen-temen gue? Salah tetangga gue? Salah satpam-komplek-perumahan gue? Nah, emangnya lu jadi mahasiswa ngambil jurusan arsitektur itu terus maunya jadi apa? Tukang sayur? Nggak kan. Ujung-ujungnya lu pengin jadi arsitek juga kan. Udah ah, nggak usah banyak protes.(*)

43 responses to “Jadi Mahasiswa Arsitektur (Tidak) Harus Jago Gambar

  1. ahahajaha…..
    salam kenal….
    postingan ini asik, bodor, kocak bin ajaib…
    runutannya bikin ketawa sendiri.. tapi kocak juga ampe pengen abisin bacanya…. hahahaha…

    yoiyoi… masalahnya emang kan harusnya tentang mahasiswa arsitektur yah.. ampe keren jadi ada FG dan kolapsenya… yakin pasti kocak deh diskusi tritnya…

    sebenernya saya sempat punya dialog ketika berbicara dengan junior junior yang bertanya apakah bisa dan rekomen untuk masuk arsitek? saya pernah juga menanyakan balik lagi apa alasan mereka memilih arsitek. ada yang karena maket, karena gambar rumah, karena kliping brosur estate, karena non eksak, karena karena lainnya masih ada. dan ujungnya saya lebih menganjurkan ke desain interior karena cakupan mikro, durasi per proyek lebih jelas cepat, dan lahan kerjanya lebih banyak karena tidak harus diatas tapak yang makin minim. kebanyakan yang saya rekomendasikan arsitektur adalah jika mereka tertarik di konsultan asing, atau melanjutkan jenjang dan lisensi lebih atas dari s1, atau penggila akademis, atau peminat lembaga formal sistemik seperti BUMN.

    akhirnya memang sekarang junior nampaknya makin ngeh kalau mereka bisa otodidak aplikasi komputer apapun untuk menutupi atau mengimbangi kelemahan mereka dari skill tangan menggambar… sama halnya seperti Ahmad Dhani membuat suara pas pasan menjadi karya seni populer mungkin yah…#hanyaperumpamaan

  2. Ngomong2 ttg sketsa tangan sepertinya buat arsitek emg penting bgt ya. Aku mahasiswa arsitek tahun pertama di Rusia🙂 klo disini emg lebih ke gambar manual (tangan) drpada pke komputer. Emg pemakaian komputer sgt jarang. Malah ada satu pelajaran khusus buat sketsa tangan (mendekati seorang pelukis).

    • wow, blog ane sampe roaming ke rusia. hehehe… keren gan bisa kuliah di luar negeri, apalagi rusia yg notabene kurang mainstream. kuliah di sana pake bahasa inggris atau bahasa rusia? gimana juga sama tulisannya? kan tulisan rusia beda tuh, apa nggk repot ya?

      wah, jadi penasaran sama sistem pendidikan di sana.

  3. kak, aku tertarik nih buat masuk arsitek interior. tapi ya emang terhambat soal menggambar hahaha. bener2 kemampuan gambarnya gaada jadi ga pede. gimana ya caranya biar bisa tambah yakin buat masuk arsitektur interior? ketakutan terbesar adalah takut gabetah nantinya. intinya gamau nyesel sih hehe

    • ane juga nggak jago gambar kok, bahkan ane cenderung pemalas kalo untuk urusan gambar. sempet juga dulu ngerasa nggak betah gitu, tapi obatnya -dalam kasus pribadi ane ya- adalah banyak2in liat gambar-gambar atau karya arsitektur yang keren, jadi bisa terinspirasi dan kembali bersemangat buat bisa bikin karya arsitektur yang hebat juga kayak di foto-foto itu.

      dan sekali lagi, jangan terlalu khawatir soal kemampuan menggambar. ide dan pemikiran desain jauh lebih penting. lagian, masih ada waktu 4 tahun buat belajar menggambar kan?

  4. Postingan artikel ini mantap, alur naluri temanya bikin penasaran. Gue setuju dengan kemampuan yang harus di miliki seorang (calon) arsitek untuk mampu menggambar sketsa. Karena ini merupaakn modal basik, terlepas dari seberapa besar kemampuanya.
    Meski banyak software arsitektur, namun software hanyalah alat bantu, itu yang harus di ingat, tp tanpa alat bantu bisa dibayangkan apajadinya/dan seberapa besar efisiensi yang dihasilkan. Semua harus bisa dikonfersi ke cost baik waktu / konsep /design

  5. Kak, kalau gambar arsitektur itu harus yg perspektif aja? ada cara-cara wajib buat gambar arsitektur ga kak? Saya minat masuk teknik arsitektur dan gak jago gambar. tapi di saringan USM ada tes gambarnya. saya ingin tau bayangan tes gambar arsitektur itu gimana ka.

    • wah, gini-gini. gambar perspektif itu sangat-sangat penting karena fungsinya untuk menggambarkan suasana ruang secara 3 dimensi. tapi apakah gambar dalam arsitektur itu cuma perspektif? nggak. kan ada gambar denah, tampak, potongan, dsb yang digunakan untuk memahami bangunan dari sudut pandang yg berbeda-beda.

      trus gimana gambaran ttg tes gambar arsitektur? terus terang, saya nggak tau. karena setau gue jurusan arsitektur di perguruan-perguruan tinggi negeri kan udah kompakan pakai snmptn dan tes tulis, sudah nggk ada tes gambar lagi. gue dulu pun masuknya ya nggk pake tes gambar. kalau memang kamu mau ikut tes gambar, coba cari-cari aja info ttg buku-buku tes gambar arsitektur, gw pernah baca juga kok, cuma lupa isinya tentang apa. harusnya sih, karena di jurusan arsitektur, yg kemungkinan keluar itu ttg gambar suasana sama kemampuan berpikir meruang. mungkin termasuk rendering juga sih, tp sekali lagi, sy cuma ngira-ngira ini karena nggak ada pengalaman soal itu sama sekali.

  6. kak saya pengen msuk kuliah jurusan arsitek ni nanti klu gambar mungkin saya bisa cuman yg saya takut am arsitek itu hitung-menghitung nya ..
    apa iya arsitek itu harus pinter itung-itungan ???

    • kalau porsi hitung-menghitung sih saya rasa nggak begitu besar ya. ada sih kalau di tempat saya mata kuliah matematika arsitektur, tapi cuma 2 sks. itupun materinya diambil dari pelajaran matematika ipa kelas 3 sma. ada juga mata kuliah mekanika teknik, ada hitungannya juga tapi dikit. yang penting kalau jadi arsitek itu bukan hitung-menghitungnya, tapi logika tekniknya (kalau terkait hal-hal yang matematis). kalau perhitungan, misalnya struktur, kalau sudah kompleks sekali kan pasti minta bantuan insinyur sipil yang memang lebih ahli pada bidang itu.

  7. kak aku sekarang udah jadi mahasiswa arsitek , dan modal aku adalah minat aja , gambar gak jago, ngitung juga gak jago, apalagi ngomong. dan sekarang hari hari di kampus seakan di neraka dengan seabreg tugas yang menyelimutiku, aku harus gimana nih kak? dan sempat terlintas dipikiran buat pindah fakultas. kasi saran ya kak

    • nikmatilah jika itu memang minat kamu. sy sendiri dulu masuk arsitektur krn pilihan sendiri, tapi setelah masuk pun sempet jiper sama tugas yg seabrek dan kemampuan saya yg pas2an. tapi sy sering baca2 buku arsitektur yg keren2 di perpus jurusan atau browsing2, baca2 ttg arsitek yg menginspirasi dgn nilai2 dan prinsip arsitekturnya dsb. jadi saya dapet semangat kembali, karena sy memang suka arsitektur.

      kalau sulit ya namanya kuliah juga pasti sulit, dijalani aja. siapa yg jamin kuliah di jurusan lain akan lebih mudah? jadi, kalau memang minat kamu di arsitektur ya perjuangkan. kalau ternyata kamu mikir minat kamu nggak sebesar itu, ya silahkan mencari jurusan lain yg lebih cocok buat kamu.

      selamat berjuang🙂

  8. sekarang aku kelas XI, kan harus mulai2 mikir masuk apa, lagi tertarik ke arsi nih, tapi keadaannya waktu aku kelas 10 nyoba masuk ke ekstrakulikuler design arsi, dan cuman bertahan 1 tahun itu kelas XI udah merasa ga kuat? masih bisa ngejar ga kalo gitu?

  9. mantep nih artikelny. mau nanya nih ak. ak udah kelas XII teknik gambar bangunan, pastilah pngen kuliah arsitektur. tp ada hambatan di itung itungan kayak statika, fisika. apa itu penting banget nanti di wkt kuliah, terus wkt pendaftaran itu tesny gimana?

    • pengetahuan tentang hitungan tentu penting. tapi, dari pengalaman pribadi saya, mata kuliah yang seperti itu porsinya lumayan sedikit. tidak perlu jago sekali menghitung, karena yang lebih advance nanti kan jadi jatahnya sipil. tapi yang lebih penting lagi adalah logika berpikir tekniknya.

      kalau tes masuk, sejauh yang saya tahu ya tes tulis pada umumnya. kalau jaman dulu masih ada tes gambar, sekarang setau saya sudah tidak ada (untuk PT negeri).

    • silahkan.🙂 saya sudah tulis ulang sih untuk versi yang lebih mudah dipahami di blog saya yang satunya arsitektung.blogspot.com. boleh juga kalau mamu mampir ke situ.

  10. kak, saya yanuar ayu kelas 12 sebentar lagi lulus dan mau melanjutkan ke arsi , tapi disini saya masih bingung setelah ujian sbmnptn dan lulus ke universitas itu, terus untuk masuk ke jurusan arsitektur itu ada tes lagi kan? tesnya itu kayak apa sih? soalnya kan dari beribu orang cuma diterima seratusan..

  11. salam kenal gan
    saya juga mahasiswa arsitektur salah satu pts di bandung.angkatan baru

    setuju banget sama agan satu ini.
    numpang curhat hehe
    awal nya tuh saya sama sekali ga ada pikiran untuk masuk jurusan arsitektur,
    entah karena apa tb tba saya jadi masuk kejurusan yg satu ini,
    saya bnar bnar blm tau aapa aapa tentang arsitektur, bahkan saya blm tau horrornya tugas mhasiswa arsitektur haha
    tp saya memantapkan niat untuk tetep masuk di jurusan ini.
    awal masuk tuh enjoy bnget, dua mggu pertama, yaa secara blm masuk yg namanya studio.
    mlah sempet blg ktemen saya,” kok kuliah cepet bbgt yah, sepi bngt ga ngerjain apa apa”
    semua kata kata itu berubah setelah mggu ketiga. tugas udah mulai mengalir.
    dan bahkan trus sampe mau semster 2 pun ga ada yg namnya mggu tanpa tugas.

    walaupun saya baru 1 semster di jurusan ini tp udah kerasa bngt yg namnya jenuh ama tugas, secara kampus saya ga ada ujian gambar jadi semester awal di gojlok gambar.

    tips buat kawan kawan yg ngerasa mau masuk arsi tp ga pede sama skil gambar, ga usah minder.
    saya juga masuk tanpa skill gambar sama sekali.
    tp lama lama dilatih jadi kerasa kok tuh tgan bisa gambar hehe.

  12. terimakasih untuk motivasinya, jadi semangat mau arsitek deh :’), boleh nanya gak? kalau di arsitek cuma modal gambar aja gak bisa ya? gimana kalau kita bisa ngebayangin apa yang mau kita gambar, tapi pas mau di gambar tu susah banget, imajinasi di otak kita udah banyak, tapi susah untuk di tuangkan di kertas… ._.

    • tentu.🙂 tapi yang harus diingat & digaris bawahi dari sketsa atau pun media lainnya (maket, model digital, dsb) adalah aspek informatifnya. jadi, tidak masalah kalau sketsanya tampak biasa-biasa saja, yang penting tetap informatif.🙂

  13. Kalo boleh tau Sebenarnya kakak ada alasan khusus ga milih jurusan arsi? Aku mau kelas 12 dan ortu ngeyaranin masuk arsi. Terus kakak ku anak desain interior jadi katanya ntar bisa join. Tapi aku takut nantinya salah jurusan. Boleh dibantu ga kak? Makasih ya

    • sy ingat dulu waktu SMA sy selalu bilang pengin masuk jurusan teknik pertambangan atau perminyakan kalau sudah kuliah. alasannya, supaya gampang cari duit (tipikal banget lah).

      masuk kelas tiga SMA, sy mulai sadar kalau sy nggk bener2 segitunya bergairah dengan dunia itu. sy malah nemu website yg isinya foto karya2 arsitek dan tertarik buat liat2. sejak itu, sy rutin ngecek web tsb. dan sadar kalau passion sy memang dunia seni, bukan eksakta atau engineering yg totok. jadilah sy ubah pikiran sy dan masuk jurusan arsitektur.

      saran saya, kamu temukan apa yg kamu inginkan. mendengarkan saran orang lain tentu perlu, tapi, apa gunanya kalau km sendirinya gak pengin? jurusan apa pun baik asalkan km bisa bawa dirimu sendiri jg dgn baik kan.

      semoga sukses.🙂

  14. ka aku ga jago gambar, ga jago itungan tapi aku mau banget berkutat dalam dunia seni bangunan. aku sempet mikir masuk desainer interior tapi aku ga mau cuma bisa di interior aja. dengan modal aku yg cuma segitu menurut kaka aku desainer interior apa arsitektur?

  15. kak, saya masih kelas 1 SMA tapi kepengeeen banget jadi arsitek. Pengennya sih kuliah di ITB, terus masuk fakultas SAPPK nya ya kak? kak aku mau tanya nih, klo jadi arsitek mmgnya harus memperdalAM MTK dan Fisika ya?

    terus pas aku baca2 di internet, jadi mahasiswa arsitektur itu ngeberatin banget, ada studio lah, dan katanya jg mau lulus 4 tahun aja itu susah. plus, pasti anak arsitektur itu begadang terus? bnr gk kak?

    dan kak, kakak udh jadi arsitek blm? klo mahasiswa jurusan arsitektur itu, kalo udh lulus sarjana bisa langsung jadi arsitek gak kak? terus mulai kerjanya gimana? kak plis dijawaab, penasaran banget soalnya hehe..

    salam dari SMA Al Kautsar, Lampung!😀

    • halo Saarah di Lampung, maaf ya baru sempat membalas. wah pengin masuk ITB ya, semoga nanti tercapai ya.

      apakah harus memperdalam matematika dan fisika? saya rasa tidak. yang penting paham dengan prinsip dasar dan cara kerjanya yang berhubungan dgn bidang studi kita.

      apakah anak arsitektur itu begadang terus? jawabannya tidak. kami hanya bergadang menjelang deadline pengumpulan tugas dan minggu-minggu akhir semester. hahaha…

      saya belum jadi arsitek, lulus saja belum. hehehe… kalau lulus sarjana bisa kerja di firma arsitektur sebagai arsitek junior. tapi kalau ingin mendapat lisensi profesional dari Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI), harus menambah pendidikan profesi lagi selama satu tahun.

      kurang lebih begitu, semoga membantu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s